Tuesday, April 24, 2012

Action Plan


Kelompok 6 

Anggota      :  Rossa Mentari putri        (101301010)
                        Reza Indah Pribadi         (101301014)
                        Yoseva Okta Naibaho    (101301052)
                        Vera Gandhi                    (101301057)
                        Dede Suhendri                (101301078)
                        Olga Septania                 (101301082)

                         
Konsep           : Belajar sambil bermain

Perencanaan

A.      Pendahuluan

Guru ataupun pengajar memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar dan perlu diperhatikan secara serius. Tidak hanya ilmu dan pengetahuan yang dilihat dan dipelajari seorang murid terhadap gurunya, namun sikap dan moral juga akan dicontoh oleh murid. Mengajar bukanlah suatu kegiatan yang mudah, hal ini memerlukan pengetahuan dan praktik mengajar yang baik.

Ilmu Paedagogi sangat diperlukan untuk menjadi pedoman dalam mengajar. Dalam Paedagogi, mengajar bukan hanya sebatas memiliki ilmu dan menyampaikan ilmu tersebut, namun terdapat seni Paedagogi untuk mengajar. Perlu diperhatikan juga cara menyampaikan ilmu tersebut, interaksi, improvisasi, dan ekspresi. Intinya, kegiatan pembelajaran sesungguhnya merupakan kombinasi antara ilmu dan seni.

Selain itu, tidak hanya mempelajari teori Paedagogi, namun harus mengetahui dan mempelajari praktik Paedagogi. Dengan kata lain, tidak sekadar harus dipahami, melainkan juga mengetahui bagaimana cara mengaplikasikannya. Paedagogi dapat memfasilitasi dan menjadi pedoman bagi calon guru dan juga guru ataupun pengajar.

Hal ini berhubungan dengan konsep micro teaching, dimana Micro berarti kecil, terbatas, sempit. Teaching berarti mendidik atau menajar. Micro Teaching berarti suatu kegiatan mengajar dimana segalanya diperkecil atau disederhanakan. Hal ini memberikan kesempatan bagi pengajar untuk melatih kemampuan interaksi nya dengan murid dan juga sarana untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi pengajaran yang lebih kompleks yaitu kelas yang sebenarnya. Disinilah kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu menjadi seni mengajar dan mempraktikkan teori yang telah dipelajari.

Pelajaran yang diajarkan dalam kegiatan micro teaching ini adalah bahasa Inggris. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada zaman yang serba canggih ini, bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang sangat penting. Sebagian besar alat elektronik seperti komputer, ipad, dan lain sebagainya juga menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa perangkatnya.  Bahasa Inggris adalah world language yang dapat digunakan hampir di seluruh dunia. Sangat banyak keuntungan yang dapat diperoleh jika dapat menguasai bahasa Inggris, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan. Termasuk ketika searching di dunia maya, sangat banyak artikel, karya ilmiah, ataupun hasil penelitian yang ditulis dalam bahasa Inggris yang dapat menambah wawasan kita.

Anak-anak diharapkan mempunyai kesempatan mempelajari bahasa internasional ini sejak dini. Jika sejak kecil sudah dipelajari, maka akan menjadi bekal yang sangat berguna baginya setelah dewasa. Oleh sebab itulah, pelajaran yang diberikan dalam kegiatan micro teaching ini adalah bahasa Inggris. Tingkat kesulitan yang diberikan juga disesuaikan dengan kemampuan mereka. Tujuan pelaksanaan micro teaching ini salah satunya adalah agar anak dapat lebih termotivasi lagi untuk belajar bahasa Inggris setelah mereka mengetahui pentingnya bahasa Inggris untuk masa depan mereka.


B.      Landasan Teori

  -  Paedagogi praktis

Penting untuk kita ketahui bahwa Paedagogi bukan hanya sekedar memahami pengertiannya, namun  juga bagaimana pengaplikasiannya. Hal inilah yang melahirkan apa yang disebutkan sebagai Paedagogi Praktis. Salah satu fungsi penelitian paedagogis adalah untuk memungkinkan guru atau pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan bila perlu memodifikasi paedagogi. Tujuan ini melahirkan paedagogi praktis.

The application on our micro teaching activity

Kita semua telah mengetahui bagaimana keberadaan paedagogi itu, sekarang tinggal bagaimana kita mengaplikasikannya. Ada beberapa pengaplikasian berdasarkan unsur paedagogis dalam kegiatan microteaching yang kami lakukan. Sebagai contoh bagaimana kami sebagai tim pengajar membentuk sebuah konsep mengajar kepada anak-anak agar mereka memahami materi ajar. Dalam hal ini, kami mengadakan beberapa tahapan untuk dapat memahami beberapa pekerjaan dalam bahasa Inggris. Kami memulai dengan:

1.       Menunjukkan media ajar
Media ajar dalam artian kami sengaja menyiapkan gambar pendukung. (cth: gambar seorang pilot kemudian pada bagian bawah tertera bahasa Inggris dari Pilot yakni PILOT)
2.       Memberikan contoh cara membaca
Kami kemudian membacakan dengan jelas dan tegas bagaimana kata “PILOT” dalam bahasa Inggris dibacakan.
3.       Mengajak peserta didik untuk mengulang bagaimana cara
          membacakan kata “PILOT”
4.       Meminta peserta didik untuk mengeja ke dalam bahasa Inggris

Tahapan ini kami lakukan karena penting untuk menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik, agar tidak juga terlalu cepat dalam memberikan bahan ajar dan juga tidak terlalu lambat sehingga peserta didik mampu memahami dan mengingat untuk selanjutnya.

Prinsip-prinsip Proses Paedagogis

Beberapa prinsip-prisip Paedagogis adalah:
1.     Kesatuan karakter ilmiah dan ideologis dari proses paedagogis (Addine, 2001), dalam artian bahwa setiap proses paedagogis harus terstruktur. Seperti apa yang telah kami lakukan, bahwa kami membagi proses mengajar kami menjadi 3 bagian yakni:

           ·         Ice breaking atau pengenalan
Dalam bagian ini kami masing-masing sebagai pendidik memperkenalkan diri kemudian juga kami meminta para peserta didik untuk memperkenalkan diri mereka. Kami juga menanyakan bagaimana ketertarikan mereka terhadap pelajaran Bahasa Inggris, bagaimana nilai yang mereka peroleh di sekolah untuk setiap mata pelajaran Bahasa Inggris, dll. Hal ini kami lakukan tentunya dengan maksud agar antara kami sebagai pengajar dan para peserta didik dimulai dengan sesuatu yang ringan sehingga untuk proses selanjutnya akan menjadi lancar.
           ·         Memasuki materi ajar
Bagian yang kedua ini sudah kami mulai dengan materi ajar. Dimana kami mulai dengan menunjukkan media ajar (gambar), kami membacakanpronunciation atau bagaimana cara pelafalan kata-kata dalam bahasa Inggris, kemudian meminta peserta didik untuk mengeja, selanjutnya meminta mereka untuk menuliskan kalimat menggunakan kata-kata yang sudah dipaparkan sebelumnya. Peserta didik yang aktif (yang mampu menjawab, mau menulis kalimat di papan tulis) kami berikan bintang sebagai penghargaan.
           ·         Penutup
Pada bagian ini kami mengadakan games, nah ini adalah hal yang paling dinantikan oleh peserta didik kami. Games kami berikan untuk membukakan suatu pelajaran bagi mereka. Pada akhir dari games, kami meminta beberapa anak untuk memberikan pendapat mereka mengenai pelajaran apa yang mereka dapatkan melalui games yang kami berikan (dalam hal ini games yang kami berikan adalah estafet karet) dan para peserta didik banyak memberikan pendapat dimana games ini mengajarkan mereka untuk mengontrol emosi mereka, mengikat kebersamaan, kesabaran, dsb hingga pada bagian akhir kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi para peserta didik pada hari itu.

2.    Adanya kekhususan atau karakteristik yang berbeda pada setiap anggota yang memiliki hak untuk dipertimbangkan dan dihormati

Dalam proses micro teaching yang kami lakukan, terdapat beberapa anak yang sangat aktif dan bahkan ada yang sangat pemalu. Kami tentunya berusaha untuk memberikan taktik-taktik tertentu. Misalkan untuk anak yang sangat aktif, kami tidak menutup kesempatan untuk mereka mengutarakan jawaban atau komentar mereka namun pada sesi yang lain kami juga membatasi si penjawab dengan maksud agar anak lain yang belum menjawab juga mempunyai kesempatan untuk menjawab. Sedangkan untuk anak yang sangat pemalu, kami secara khusus sering menyebut nama mereka untuk menjawab atau sekedar memberikan komentar, terkadang kami juga perlu usaha yang extra untuk meminta mereka menjawab seperti membujuk mereka, mendekati kursi mereka dan meminta mereka menjawab, atau sekedar membisikkan kepada mereka kata-kata semangat kalau mereka juga mampu seperti anak-anak lain untuk menjawab pertanyaan tersebut.

3.       Istilah pendidik dan pengajar tidak dapat dipertukarkan tetapi saling 
          melengkapi

Prinsip ini mengarah kepada pengertian bahwa ketika seseorang menempuh pendidikan, maka ia harus menjalani proses pembelajaran yang baik.

4.      Proses paedagogis menggamit prinsip bahwa domain kognitif dan afektif tidak bisa berada dalam suasana yang kering

Hal ini berarti bahwa proses paedagogis harus terstruktur berdasarkan kesatuan dan hubungan antara kondisi manusia. Jadi seorang peserta didik mungkin saja mempunyai pemahaman sendiri bagaimana dunia di sekitarnya dan dunianya sendiri sehingga pemahaman inilah yang tentunya akan mempengaruhi bagaimana mereka bertindak serta merasakan sesuatu.

5.       Masing-masing subsistem aktivitas, komunikasi dan kepribadian saling terkait satu sama lain

C.      Alat dan Bahan
Dalam melakukan microteaching ini, adapun alat dan bahan yang kami perlukan yaitu :
1.       Gambar (alat peraga)
2.       White Board dan Spidol
3.       Kamera digital
4.       Sedotan
5.       Karet gelang
6.       Bintang dari kertas
7.       Beberapa hadiah (reward)

D.      Peserta

Yang akan menjadi peserta dalam kegiatan microteaching ini adalah anak-anak sekolah minggu di Gereja Katolik Santa Maria Ratu Rosario (Jl. Binjai Km 8,5), yang berjumlah 10 anak.

E.  Jadwal Kegiatan



F. Taksiran Biaya  

Alat dan bahan : 50.000,-
Reward              : 50.000,- 

Monday, April 23, 2012

Testimoni Perkuliahan 23 April 2012


Hari ini mata kuliah Paedagogi yang ditemani Bu Dina tidak lebih dari 40 menit. Sebenarnya hari ini Bu Dina akan menemani kami membahas beberapa hal dan menuntaskan berbagai permasalahan yang muncul di UTS. Tapi sayangnya, terjadilah suatu “insiden” yang kerap terjadi, yaitu mahasiswa tidak menjawab saat dosen bertanya. Kemungkinan pertama yaitu mahasiswa takut salah menjawab, kedua karena konformitas (sama-sama konform untuk tidak menjawab), ketiga karena tidak mau tahu, ataupun yang keempat-sudah mati rasa. To be honest, aku sendiri adalah gabungan tipe pertama dan kedua. Aku menjawab dalam hati, yang rasanya sulit sekali bila harus dilontarkan dari mulut. Akhirnya Bu Dina mengeluarkan ultimatum, bila pertanyaan terakhirnya tidak dijawab lagi, maka Beliau akan keluar dari ruangan kelas. Sebenarnya pertanyaan terakhir ada dijawab oleh beberapa orang, tetapi dengan suara kecil. Bu Dina bergerak mendekati meja, mengshut down laptop, menggulung kabel charger, memasukkan ke dalam tas, dan melangkah keluar dari kelas.

Aku sendiri salut Bu Dina dapat benar-benar melakukannya. Karena aku memperhatikan bahwa tidak semua guru dapat dengan tegas menerapkan sanksi yang telah mereka katakan. Menurut pendekatan behavioral, salah satu cara untuk meningkatkan prilaku yang diharapkan adalah melalui perjanjian (contracting), yaitu ketika murid tidak bertindak sesuai harapan, guru dapat  merujuk pada perjanjian yang telah dibuat dan melaksanakan sanksi yang telah disepakati. Aku juga pernah membaca di salah satu buku psikologi pendidikan yang menulis bahwa, bila seorang guru telah membuat suatu kesepakatan yang memberikan sanksi, ketika kesepakatan itu dilanggar, maka sanksi harus benar-benar diberikan. Jika guru sendiri tidak tega ataupun tidak benar-benar memberikan sanksinya (hanya ngomong di mulut saja), maka di lain waktu ketika melakukan kesepakatan lagi, murid akan menganggap remeh kesepakatan tersebut karena sanksi tidak akan benar-benar diberikan. Aku sendiri pernah mengalaminya di kelas yang aku ajari. Karena aku agak tidak tega memberi sanksi (ataupun sanksi kuringankan), maka murid menganggap remeh hal yang aku katakan. Akhirnya aku tersadar saat membaca teori tersebut, dan benar-benar memberikan sanksi yang telah kusebutkan. Ternyata cukup efektif karena untuk selanjutnya, mereka tidak berani menganggap remeh lagi. =D Hanya saja aku masih belum begitu tahu bagaimana cara menerapkan dengan frekuensi yang benar, karena tidak mungkin juga begitu mereka ngobrol sedikit, langsung diberikan sanksi. Kelas akan menjadi sangat kaku dan tidak menyenangkan lagi bagi mereka.

Di akhir testimoni ini, aku juga ingin meminta maaf kepada Bu Dina karena aku adalah salah satu mahasiswa yang tidak menjawab dengan suara keras. Sepertinya tekanan konformitas yang kurasakan begitu kuat hingga mengalahkan rasa ingin menjawabku. Maaf  ya, Bu.. >__<

Thursday, April 12, 2012

Testimoni UTS

Ini adalah kali kedua aku mengikuti ujian dengan sistem online. Rasanya tetap saja beda dengan ujian formal yang diadakan di kelas. Jika ketegangan saat ujian di kelas itu akan berlalu hanya dalam satu setengah jam, dalam ujian  online ini tidak ada batasan waktunya. Apalagi dengan kemampuan menguntai kalimatku yang terbilang cukup lambat, untuk menjawab satu soal saja waktu yang digunakan lamaa..banget.

Tapi setelah melewati UTS online ini, pengetahuanku tentang pedagogi semakin bertambah! =D

Biasanya yang kuulas dalam blog hanya sebatas teori kulit luarnya saja. Kali ini berkat UTS, akhirnya aku bisa lebih serius mengkaji penerapan dari ilmu pedagogi ini. Penerapannya jauh lebih sulit dari yang kuperkirakan. Bahkan masih ada teori-teori yang aku tidak mengerti bagaimana cara mengaplikasikannya kepada anak untuk kegiatan micro teaching.

Testimoni UTS ini merupakan salah satu bentuk evaluasi dari kegiatan UTS online. Melalui testimoni ini, dosen dapat mengetahui sejauh mana kesan mahasiswanya dalam mengikuti ujian sistem online. Jika dikaitkan ke dalam teori psikologi pendidikan, adalah karakter pribadi yang baik dari seorang pendidik untuk berusaha mengevaluasi kembali kegiatan yang dilakukan. =)

Sunday, April 8, 2012

UTS Paedagogi

Kolaborasi Pedagogi dan TIK

Seiring dengan perkembangan zaman, peran teknologi dalam membantu pembelajaran juga bertambah penting. Penggunaan teknologi secara efektif dapat memaksimalkan hasil belajar siswa. Namun, hal yang harus diperhatikan oleh guru yaitu bagaimana penggunaan teknologi dapat sejalan dengan prinsip pedagogi. Prinsip pedagogi meliputi:
      ·   Guru dan murid sama-sama adalah pembelajar yang aktif
      ·   Guru dan murid dapat menjadi ‘partner’ yang baik
      ·   Guru dapat mendukung setiap murid secara istimewa
      ·   Guru meningkatkan ruang dan kesempatan kepada siswa untuk bereksplorasi
      ·   Guru harus memperhatikan kriteria-kriteria penting dalam mengeksplorasi
·    Hal yang paling penting adalah proses, bukan hasil akhirnya.

Guru juga harus mengingat tujuan pendidikan yang sebenarnya, yaitu membantu murid menjadi lebih mandiri untuk mencari tahu ilmu pengetahuan itu sendiri, bukan hanya menjejalkan ilmu pengetahuan kepada mereka.

Kehadiran TIK memberikan pengaruh yang besar terhadap seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Dengan adanya perkembangan teknologi ini, maka muncullah konsep pembelajaran e-learning, yaitu proses belajar yang memungkinkan murid untuk belajar yang difasilitasi oleh TIK.
Penggunaan TIK memberikan banyak kemudahan dalam proses pembelajaran, yaitu memungkinkan murid untuk belajar tanpa terhambat jarak dan waktu, dapat menciptakan komunitas pelajar di luar kelas, menunjang pembelajaran dengan menawarkan sumber daya yang bervariasi, dan menawarkan pengalaman virtual dan alat-alat yang menghemat waktu sehingga mereka dapat belajar lebih banyak pengetahuan baru lagi.

Bagaimanapun juga, penggunaan TIK harus sejalan dengan prinsip pedagogi. Teknologi tetap tidak dapat menggantikan kehadiran guru, apalagi mengambil alih tanggung jawab mereka. Guru  harus dapat memberi stimulasi pada murid untuk memunculkan interaksi antara satu dengan lainnya. Guru juga harus mampu mendorong  murid untuk mengembangkan diri sendiri menjadi lebih produktif lagi. Terakhir, guru memiliki tanggung jawab untuk membuat murid merasa bahwa aktivitas di dalam kelas tersebut bermakna.

Sumber referensi:
Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta.

Friday, March 30, 2012

Pedagogi Praktis???


1.  Apa itu Pedagogi Praktis?
2. Apakah Negara Indonesia kita ini telah menerapkan pedagogi praktis ataukah belum?

  Menurut hasil pembahasan kelompok kami, pedagogi praktis merupakan pengaplikasian dari pedagogi dalam ilmu pengajaran. Pedagogi merupakan seni dan ilmu mengajar oleh seorang pendidik kepada murid-muridnya. Banyaknya orang yang masih tertarik untuk mendiskusikan pedagogi, melahirkan istilah pedagogi progresif atau pedagogi abad ke-21. Pedagogi praktis menerapkan teori-teori dari pedagogi teoritis yang telah teruji. Saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung, perbedaan antara pedagogi praktis dan pedagogi teoritis tidak begitu terlihat. Namun, pendidik akan menemukan banyak pengalaman baru saat mereka sedang mengajar. Pada saat itulah mereka juga meneliti apakah pedagogi praktis yang telah mereka praktekkan sudah sejalan dengan teori yang ada dalam pedagogi teoritis.

   Apakah Negara Indonesia kita ini telah menerapkan pedagogi praktis ataukah belum? Paedagogi praktis tentunya memang merupakan hal yang dilakukan oleh para tenaga pendidik, yaitu mempraktekkann prinsip paedagogi teoritis. Menurut kelompok kami, saat ini lembaga pendidikan anak usia dini sudah mengaplikasikan prinsip paedagogi praktis dengan cukup baik. Hal ini dapat dibuktikan dengan penerapan metode pembelajaran di beberapa sekolah yang sudah tidak lagi konvensional dimana guru bertindak sangat otoriter. Metode pembelajaran saat ini telah lebih mempertimbangkan masa eksplorasi pengetahuan anak-anak yang lebih luas, bukan hanya pengetahuan yang bersumber dari guru di sekolah. Tempat pendidikan anak usia dini tidak hanya ada pada sekolah. Seperti yang dapat kita lihat, saat ini tempat penitipan anak, tempat kursus dapat dengan mudah ditemukan karena pendidikan bagi anak usia dini tidak mengharuskan pendidikan yang bersifat formal, bertempat di gedung yang besar. Asalkan tersedia sarana dan fasilitas-fasilitas yang diperlukan, proses belajar mengajar tidak harus dilakukan di ruangan yang besar, bahkan pada saat ini, kebanyakan ruang kelas di beberapa sekolah lebih kecil dari ukuran ruang kelas masa dulu karena berdasarkan prinsip paedagogi, proses belajar mengajar lebih efektif bila jumlah anak dalam kelas tidak terlalu banyak.

   Metode pembelajaran konvensional yang hanya berpusat dari guru meskipun melatih kedisiplinan anak-anak, namun menghambat kreativitas dan membatasi ruang lingkup pengetahuan anak. Oleh karena itu, saat ini para tenaga pendidik berusaha menggunakan macam-macam metode pembelajaran yang kreatif untuk memaksimalkan eksplorasi anak untuk menemukan hal-hal baru sendiri secara nyata bila memungkinkan dan tentunya juga dibimbing oleh guru. Para tenaga pendidik berusaha untuk mampu memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak-anak selama belajar seperti melakukan field trip, gathering day, belajar dengan praktek langsung di setting sebenarnya (learning by doing), dsb sehingga anak-anak termotivasi untuk terus belajar.

   Selain melakukan perubahan pada metode pembelajaran, ketentuan-ketentuan mengenai kriteria tenaga pendidik juga telah diatur lebih ketat. Setiap sekolah memiliki ketentuan-ketentuan dalam penerimaan guru. Sebagian sekolah mensyaratkan diploma untuk calon guru jenjang pendidikan tertentu, sebagian lagi mensyaratkan Sarjana (undergraduate) atau master.

     Anggota Kelompok:
     Wieny Delvonia (10-032)
     Vera Gandhi      (10-057)
     Venti Ayu Wibawa (10-070)

Saturday, March 24, 2012

Pengaplikasian Pedagogi Abad 21

Istilah pedagogi sebenarnya sudah cukup lama dikenal, dimulai sejak adanya peradaban pendidikan dan pembelajaran. Sampai sekarang pun, pedagogi masih menjadi bahan diskusi sehingga diberi nama pedagogi progresif (progressive pedagogy).

Menurut McNamara (1991), pengetahuan pedagogis terbagi dua, yaitu pengetahuan pedagogis formal dan pengetahuan pedagogis vernakular. Pengetahuan pedagogis formal berupa pedagogi teoritis atau ilmiah, dan pengetahuan pedagogis vernakular merupakan istilah lain dari pedagogi praktis.

Fungsi penelitian pedagogis yaitu: (1) menghasilkan pnegetahuan baru tentang pengajaran dan pembelajaran. Tujuan dari fungsi pertama ini akan menghasilkan pendagogi teoritis. (2) memungkinkan pendidik memahami, menjelaskan, membela, membenarkan, dan memodifikasi pedagogi (bila perlu). Tujuan fungsi kedua ini akan menghasilkan pedagogi praktis.

Guru juga dapat mengembangkan pendekatan sendiri untuk pedagogi dengan berdasarkan kerangka kerja berikut:
      1.  Pertimbangan tujuan pendidikan dan nilai-nilai yang mendukung pengajaran
      2.  Pengetahuan tentang teori belajar
      3.  Pengetahuan tentang konsep-konsep yang berbeda dari mengajar.
      4.  Pengetahuan model pengajaran dan pembelajaran, interaksi dengan siswa
      5.  Memeahami bagaimana pedagogi dapat diterapkan di dalam kelas.
      6.  Pengetahuan dan keterampilan untuk mengevaluasi praktik penelitian.

Pedagogi juga menemui tantangan dalam penerapannya. Oleh karena itu, munculah tiga aspek untuk memahami tantangan ini: 
  1.  Codifying and communicating teacher’s practical pedagogical knowledge.
Sebagian guru menemui masalah dalam mengtransfer ilmunya kepada murid dan kurang memperhatikan pentingnya peran mereka sendiri bagi masan depan siswa. 
  2Establishing systems for shared scientific pedagogical knowledge management.
Pengalaman praktis dari seorang pendidik masih belum didukung oleh dasar teoritis pengetahuan ilmiah yang aman. Oleh karena itulah, penting bagi guru untuk membangun sistem pedagogis serta menegmebangkan dan menerapkan pengetahuan ini. 
  3.  Developing a robust theoretical framework for the new science of pedagogy.
Ilmu baru pedagogi ini diharapkan adanya perkembangan kerangka teori yang kuat terhadapnya.

Di Indonesia sendiri, pedagogi praktis belum dapat benar-benar diterapkan karena adanya kebijakan pemerintah yang mempersempit ruang gerak pengembangan pedagogi. Tetapi bagaimanapun juga, pengetahuan pedagogi ilmiah dan praktisnya tidak dapat dipisahkan dan saling mendukung satu sama lainnya.