Sunday, March 11, 2012

Seni dan Ilmu Mengajar

Pada hari Senin tanggal 5 Maret 2012 adalah pertemuan kedua mata kuliah Paedagogi. Topik pelajaran hari itu adalah “seni dan ilmu mengajar”. Seperti biasa, aku selalu menunggu-nunggu hal baru apa lagi yang akan diajarkan oleh dosen pengampu kami, Bu Dina. ‘Sesuatu’ yang kudapatkan pada hari itu adalah editgrid.com. situs ini menyediakan kolom-kolom yang mirip microsoft Excel dan kita bisa mempublish tulisan kita sehingga dapat dilihat oleh orang lain. Walaupun aku masih belum terlalu mengerti penggunaannya, tapi rasanya menyenangkan saja karena mengetahui hal yang baru. Materi pengajaran seperti ini juga berkaitan dengan materi “mengajar adalah ilmu, mengajar adalah seni”.

Dari sudut pandang mengajar adalah ilmu, bagian yang lebih ditekankan yaitu berfokus pada cara-cara melakukan sistematisasi komunikasi antara guru dan siswa. Materi pelajaran dan interaksi diatur secara sistematis sehingga mengurangi kemungkinan kegiatan pembelajaran terjadi hanya secara kebetulan. Dalam hal ini, dosen berusaha untuk mencari materi baru yang akan disharekan kepada kami, materi tersebut bukan muncul secara kebetulan, tetapi memang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Bu Dina.

Di sisi lain, mengajar adalah seni lebih menekankan adanya intuisi, improvisasi, dan ekspresi. Pengajar juga harus siap bila menghadapi hal yang tidak terduga, dan mampu mengelola kejadian-kejadian yang muncul selama proses pembelajaran berlangsung. Misalnya ketika penggunaan Editgrid ternyata tidak selancar yang diharapkan, Bu Dina berusaha untuk mengimprovisasi materi tersebut menjadi membahas fitur-fitur yang ada pada USU e-learning.

Kesimpulannya, mengajar adalah perpaduan antara ilmu dan seni yang merupakan proses alami yang akan terjadi di dalam kelas. Mengajar sebagai aktivitas profesional pengajar, mengkombinasikan keduanya secara harmonis dalam kegiatan pembelajaran.

Referensi: Danim, Sudarwan. (2010). Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi., Bandung: Alfabeta.

Welcome to Myself..

Setelah dua bulan nganggur, blog ini akhirnya akan berfungsi kembali.:D

Blog ini benar-benar multifungsi. Awalnya aku gunakan untuk mata kuliah Psikologi Pendidikan pada semester 2, kemudian mata kuliah Kreativitas pada semester 3. Dan kali ini pada semester 4, blog ini akan diberdayakan untuk mata kuliah Paedagogi.

Mata kuliah Paedagogi ini membahas mengenai ilmu dan seni seorang pengajar dalam mendidik anak. Aku memilih mata kuliah ini karena memang tertarik untuk mengetahui sebenarnya bagaimanakah caranya mengajar anak-anak. Aku pernah mendengar di radio tentang cara mengajar yang diterapkan oleh Kak Seto ataupun Ayah Edy. Rasanya cukup sulit untuk mencapai tingkat kesabaran seperti yang mereka ceritakan. Mereka sanggup menghadapi anak yang tadinya bandel luar biasa menjadi dapat dikendalikan, dan anak yang awalnya sangat pendiam menjadi anak yang aktif.

Salah satu kisah yang diceritakan yaitu ketika menghadapi anak TK yang suka meludah, termasuk meludahi teman dan bahkan ia juga berani meludahi gurunya. Bila Anda yang menghadapi anak tersebut, apa yang akan Anda lakukan? Mungkinkah akan lepas kontrol dan melayangkan tamparan padanya? Sejauh ini aku belum pernah bertemu murid seperti itu. Tapi di lain waktu, who knows? Oleh sebab itulah aku mengambil mata kuliah ini agar ada persiapan dulu bila suatu hari berjodoh untuk bertemu anak demikian. :D 

Tuesday, January 17, 2012

Testimoni

Semester lalu, kami pernah mengikuti cara belajar dengan sistem online pada mata kuliah psikologi Pendidikan. Tetapi kali ini pada mata kuliah Kreativitas, kami melakukan ujian dengan sistem online. Ini adalah ujian paling keren yang pernah aku ikuti. Bebas dan berbatas. X)

Hanya saja pada tanggal  16, hari Senin, kami juga ada ujian mata kuliah psikologi Sosial dan ada tugas besar yang belum seluruhnya rampung. Aku sedikit kewalahan membagi waktuku. Aku kurang bisa memprediksi berapa lama waktu yang kuperlukan untuk menjawab satu soal.

Biasanya aku membuka informasi pada grup mk Kreativitas di facebook melalui HP. Tapi setelah kubuka lewat komputer, ternyata pada tanggal 5 Januari Bu Dina ada memposting mengenai aspek penilaian blog, tapi tidak dapat kulihat melalui HP. Aku baru mengetahuinya saat rekap penilaian blog sudah keluar. =.=” Kalau saja sebelumnya terbaca olehku tentang aspek-aspek saja yang akan dinilai, aku pasti akan meluangkan waktu untuk mendekor kembali blog aku. ~

Mengenai UTS ku, aku tidak begitu ingat lagi apa jawabanku. Tapi seingatku, aku tidak bisa menjawab pertanyaan nomor 1. X.x Deadline untuk memposting blog yang hanya memberikan waktu yang sedikit (misalnya: malam ini juga sudah harus diposting) di satu sisi cukup menjengkelkan, tapi di sisi lain sangat efektif karena aku tidak perlu menunda untuk mengerjakannya lagi. :D

Hmm… Satu semester berlalu dengan sangat cepat. Apakah aku sudah semakin kreatif? Untuk beberapa hal, aku akan menjawab iya untuk diriku sendiri. Thanks untuk Bu Dina yang telah dengan sangat sabar mengajari dan menghadapi kami.. *Teringat waktu Ibu bad mood, tapi tetap memberi kami waktu istirahat sebentar dan aku pergi membeli roti* Aku tahu sebagai seorang mahasiswa, aku pasti tidak luput dari kesalahan juga. Mohon dimaafkan ya Bu.. Hehe.. 

Thursday, January 12, 2012

UAS m.k. Kreativitas 2011/2012


Teori Persimpangan Kreativitas

Teori persimpangan kreativitas (creativity intersection) ialah teori yang dikemukakan oleh Amabile (1989). Pada teori ini dijelaskan bahwa keberhasilan kreatif adalah persimpangan antara tiga unsur, yaitu: (1) Keterampilan anak dalam bidang tertentu (domain skills), (2) Keterampilan berpikir dan bekerja secara kreatif (creative thinking and working skils), dan (3) motivasi intrinsik (intrinsic motivation).

Seseorang baru dapat dikatakan telah mencapai keberhasilan kreatif bila telah memenuhi tiga unsur di atas. Menurut aku sendiri, aku belum dapat dikatakan sudah mencapai keberhasilan kreatif. Tetapi aku sedang berada dalam proses menuju keberhasilan kreatif. 

Aku tidak memiliki keterampilan khusus pada bidang tertentu, tetapi ada beberapa bidang yang aku sukai. Aku suka  mendengar lagu dan memainkannya pada alat musik (piano), aku sangat suka melihat gambar manga dan berusaha untuk melukiskannya juga, aku suka menciptakan note lagu baru kreasi sendiri, dan yang paling aku senangi adalah berhasil membantu orang lain dan membuat orang tersebut merasa terbantu dengan adanya diriku. Misalnya saat kelas 2 SMA dulu, ada seorang teman yang memintaku untuk mengajarinya mata pelajaran Fisika. Biasanya nilai ulangannya selalu mendapat nilai merah, tetapi setelah aku ajari, ia mendapatkan nilai 88! Rasa bahagia ketika berhasil membantu orang lain itu tidak dapat terlukiskan dengan kata-kata. :D

Yang kedua adalah keterampilan berpikir dan bekerja secara kreatif. Aku sendiri belum memenuhi kriteria ini. L Aku menyadari bahwa cara berpikirku masih terlalu kaku dan konvensional. Hal ini mungkin disebabkan oleh lingkungan keluargaku yang sudah membiasakanku sejak kecil untuk selalu taat pada peraturan. Alhasil cara berpikirku juga masih terkotak-kotak dan berusaha untuk mengikuti pemikiran yang lumrah seperti orang-orang pada umumnya. Tetapi sejak masuk kuliah, aku menemukan teman-teman yang kreatif luar biasa dan cara mereka berpikir sangat menginspirasiku. Maka sekarang aku juga sedang berusaha untuk belajar berpikir dan bekerja lebih kreatif lagi. =))

 Motivasi intrinsik sangat berperan penting dalam mencapai keberhasilan kreatif. Tanpa adanya motivasi yang berasal dari dalam diri, maka seseorang akan sulit untuk bertahan pada posisi kreatif yang telah  dicapainya. Aku memiliki motivasi intrinsik yang cukup baik, misalnya aku melakukan setiap hal karena aku memang menyukainya, bukan karena dipaksa oleh orang lain.
Keberhasilan kreativitas akan kucapai bila ketiga unsur di atas telah terpenuhi. Aku akan berusaha untuk lebih meningkatkan lagi keterampilan berpikir dan bekerja secara kreatif. Semoga proses pencapaian ini tidak memakan waktu lama sehingga dalam waktu dekat ini aku dapat mencapai keberhasilan kreativitas. J


Model Belajar Mengajar Kreatif

Model belajar mengajar yang kreatif adalah model belajar mengajar yang dapat diterapkan dalam menyusun kurikulum untuk siswa berbakat.  Ada banyak model taksonomi yang dapat digunakan dalam kurikulum yang berdiferensiasi untuk siswa berbakat. Dalam buku Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat yang ditulis oleh Prof. Dr. Utami Munandar, diperkenalkan delapan model yaitu:

1.    Taksonomi Bloom
2.    Model Struktur Intelek dari Guilford
3.    Model Multiple Talents dari Taylor
4.    Model Treffinger untuk mendorong belajar kreatif
5.    Model Enrichment Triad dari Renzulli
6.    Model Williams untuk prilaku kognitif-afektif di dalam kelas.
7.    Taksonomi sasaran belajar efektif dari Krathwohl
8.    Model pendidikan integratif dari Clark

Setiap model yang diusulkan ini mempunyai keunggulan dan kelemahannya sendiri. Model-model tersebut boleh digabungkan untuk mencapai tujuan tertentu yang diinginkan. Dengan memadukan komponen yang berbeda-beda, akan menghasilkan pendekatan yang baru dan timbul perpaduan yang memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik bagi siswa.

Berkaitan dengan performa kelompok, model yang paling sesuai adalah model Treffinger. Model Treffinger untuk mendorong belajar kreatif, menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Model ini menggambarkan susunan tiga tingkat yaitu, (1) basic tools (meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik-teknik kreatif), (2) practice with process (menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat 1 dalam situasi praktis), dan (3) working with real problems (keterlibatan dengan tantangan yang nyata).

Ketika kami diberi tugas untuk mempersembahkan performa kelompok, kami dituntut untuk mengembangkan proses berpikir divergen agar dapat menghasilkan sesuatu yang kreatif. Pada tingkat pertama ini, kami berusaha untuk memikirkan ‘produk’ yang original. Kelancaran dan kelenturan dalam berpikir juga sangat diperlukan. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat pantonim yang berkaitan dengan makhluk luar angkasa-alien. Walaupun masih banyak yang belum kami ketahui tentang alien, kami berani mengambil resiko jika kami gagal menampilkannya. Tapi tentu saja kami berusaha mencari info-info yang berkaitan dengan alien terlebih dahulu sebelum tampil. Hal ini juga menunjukkan keterbukaan kami terhadap pengalaman-pengalaman yang baru.

Pada tingkat kedua, kami menerapkan keterampilan yang ada pada tingkat satu. Ide-ide cerita yang ada, ditampilkan dalam bentuk pantonim. Evaluasi yang kami dapatkan dari penampilan pantonim kami yaitu, kami kurang kreatif dalam membuat gerakan-gerakannya, sehingga penonton juga bingung sebenarnya apa yang hendak kami sampaikan.

Performa kelompok kami masih sampai pada tahap kedua saja. Tahap ketiga berupa keterlibatan dalam tantangan yang nyata masih belum kami lakukan. 



Jika saya adalah seorang pendidik…

Davis mengusulkan beberapa ciri-ciri yang harus dimiliki oleh guru anak berbakat, kemudian 60 siswa diminta untuk mengurutkan pilihan penilaian mereka terhadap ciri-ciri guru anak berbakat. Paling banyak murid menyatakan bahwa seorang guru haruslah memiliki kompetensi dan minat untuk mengajar. Urutan selanjutnya, guru  mahir dalam mengajar, adil dan tidak memihak, bersikap demokratis, fleksibel, memiliki rasa humor, menggunakan penghargaan dan pujian, memiliki minat yang luas, memberi perhatian terhadap masalah anak, dan terakhir berpenampilan atau bersikap menarik. Sebagai seorang pendidik tingkat SMP, saya akan berusaha untuk memenuhi ciri-ciri di atas. Pertama-tama, tentu saja saya harus berkompeten di bidang yang saya ajarkan. Bila ada bagian yang saya ragukan, maka saya tidak boleh mengajari murid saya mengenai hal itu. Tapi saya akan berusaha untuk mencari kepastian jawabannya terlebih dahulu sebelum mengajari mereka. Seorang guru juga harus memiliki motivasi intrinsik untuk mengajar. Jika saya menjadi seorang pendidik, itu karena saya memang menyukainya, bukan tekanan dari pihak lain ataupun lingkungan. Dengan jumlah siswa yang tidak begitu banyak, saya dapat lebih memperhatikan mereka. Apalagi masa SMP adalah saat-saat yang labil bagi remaja, maka saya akan berusaha untuk memberi perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh murid saya. Guru juga harus mampu menjadi teladan bagi siswanya, bahkan untuk hal kecil sekalipun, misalnya gaya berpakaian yang rapi dan sopan.

Salah satu dari teori pendekatan Empat P adalah Press. Guru, sebagai pendorong dari luar diri anak (eksternal) diharapkan dapat memberi keamanan dan kebebasan psikologis kepada anak didiknya. Sebaiknya guru tidak menciptakan suasana yang evaluatif karena murid akan merasa terbebani. Sebagai seorang guru, saya juga harus dapat menerima murid saya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tidak boleh pilih kasih. Saya juga akan membuat mereka merasa nyaman dan bebas dalam mengutarakan pendapat dan perasaan mereka. Tidak hanya memberikan bahan pengetahuan saja, tetapi saya juga akan mendorong mereka untuk mengembangkan sikap dan kemampuan yang dapat membantu mereka untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan di masa mendatang secara kreatif. Cara yang baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah dengan mendorong motivasi intrinsik. Saya akan berusaha untuk membantu murid menumbuhkan motivasi intrinsiknya, dengan cara memberikan otonomi sampai pada batas tertentu di dalam kelas.

Menurut Amabile (1989), penilaian guru terhadap pekerjaan murid mungkin merupakan pembunuh kreativitas paling besar. Evaluasi yang akan saya berikan kepada murid saya tidak hanya pendapat saya saja, tetapi saya juga akan menanyakan bagaimana pandangan mereka terhadap mereka sendiri. Hal ini dapat membuat evaluasi lebih bersifat memberi informasi daripada mengawasi mereka. Saya juga akan menghindari menggunakan kata-kata yang bersifat negatif, misalnya menghindari penggunaan kata, “Kenapa kamu melakukan kesalahan yang sama terus menerus?” Strategi mengajar yang lain yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih. Walaupun murid diberikan pilihan, tetap saja harus ada batasan tertentu karena murid masih memerlukan arah tujuan. Terakhir adalah, memberikan reward berupa senyuman, anggukan, ataupun kata penghargaan kepada murid yang telah melakukan tugasnya dengan baik. Sebaiknya murid tidak diberikan hadiah yang berbentuk materi karena hal itu dapat menurunkan motivasi intrinsik mereka.

Thursday, December 15, 2011

The “Unknown” Things that I Wanna Know…

Tidak semua hal dapat dipelajari di sekolah. Kejadian sehari-hari dan lingkungan sekitar juga memberikan sumbangsih yang besar terhadap bertambahnya pengetahuan kita. Setiap orang pasti mempunyai hal-hal yang belum dia ketahui dan yang ingin dia ketahui, misalnya gosip terbaru tentang artis Korea, gaya baju apa yang sedang in, tempat shopping mana yang sedang menawarkan diskon besar-besaran, dan lain sebagainya. Keingintahuan seperti ini dapat kita temukan di kehidupan sehari-hari. Tapi ada kalanya ada hal-hal yang ingin kita ketahui, tetapi sampai sekarang belum kita temukan jawabannya. Contohnya seperti yang telah kutulis pada postingan sebelumnya, mengapa hanya bulan Februari saja yang berjumlah 28 (atau 29) hari? Mengapa tidak bulan lain yang berjumlah 28 hari, sehingga 1 hari itu ditambahkan di bulan tersebut? Masih ada beberapa hal lain yang sampai sekarang aku masih ingin mengetahui jawabannya.. O.o
Aku juga merasa ingin tahu mengapa susunan angka di kalkulator berbeda dengan susunan angka pada telepon? Padahal sama-sama berfungsi untuk memasukkan angka, tapi apakah sebenarnya ada tujuan khusus mereka dibuat berbeda satu sama lainnya? Aku teringat saat aku masih SMP, ada temanku yang memakai handphone merk tertentu, yang susunan angkanya melingkar! Bentuk handphone tersebut menjadi membulat pada bagian bawahnya. Ntah mengapa aku tidak begitu suka model itu dan menurutku itu malah akan menyulitkan saat akan menekan tombol. Tapi aku tetap penasaran sebenarnya apa tujuan perusahaan pembuat handphone itu meluncurkan bentuk demikian. Mungkinkah memang ada fungsi lainnya yang lebih bermanfaat daripada susunan telepon biasa?
Aku sangat menyukai pelajaran yang berkaitan dengan tata surya. Ketika melihat gambar planet-planet lain, gambar luar angkasa, rasanya seperti sedang berada di suatu tempat fiktif yang hanya ada di dalam mimpi. Ketika belajar mengenai satelit bumi, tiba-tiba terpikirkan olehku: bagaimana seandainya bumi memiliki lebih dari satu satelit? Biasanya pada malam hari kita hanya dapat melihat 1 bulan di langit, bayangkanlah jika ketika kita melihat ke langit, ada beberapa ‘bulan’ dengan berbagai ukuran dan bentuk (sabit, setengah, purnama, dll) lalu dihiasi dengan bintang-bintang. Wow, menakjubkan bukan? XD Baru-baru ini juga telah ada penemuan bahwa adanya planet lain yang mirip dengan bumi dan dapat dihuni oleh manusia. Akankah kita semua pindah ke planet tersebut suatu hari nanti? Akankah kita berteman dengan alien? :D Just wait n see..
Hal lainnya yang ingin aku ketahui yaitu tentang kerajaan Atlantis. Aku hanya pernah mendengar ceritanya secara sekilas, dan aku masih sangat penasaran dengan keadaan aslinya. Konon katanya, beribu-ribu tahun yang lalu, kerajaan ini adalah kerajaan yang rakyatnya hidup dengan makmur, sejahtera, dan penuh kasih. Tidak ada rakyat yang saling membenci, tidak ada keserakahan, kedengkian, maupun hal-hal tidak baik lainnya. Aku lupa bagaimana kelanjutan ceritanya hingga kerajaan ini menjadi runtuh. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa kerajaan ini benar-benar ada, tidak hanya sekedar ‘cerita’.
Bila ada pembaca yang mengetahui jawabannya atau mengetahui kelanjutan ceritanya, ataupun ingin menanggapi, boleh share dengan meninggalkan comment di blogku yah. Tq.. :D

Wednesday, December 14, 2011

Evaluasi Performa Kelompok

Nama anggota kelompok:
Zukhrini Khalisah (10-053)
Vera Gandhi        (10-057)
Anisah Gayatri     (10-072)

Akhirnya siap juga, mungkin itu hal yang pertama yang kami ucapkan setelah melakukan peforma. Karena sudah terkatung katung waktu melakukan peforma membuat kami selalu dilanda kegalauan setiap hari kamis. Setelah perform memang banyak kekurangan yang kami miliki dan mungkin banyak faktor yang menjadi penyebabnya.
Faktor pertama mungkin karena kendala dalam diri kami sendiri (shallcross). Kami sudah terbiasa melakukan segala sesuatu dengan cara umumnya saja, misalnya saja pada saat naik pesawat veratas. Kami berjalan maju kedepan karena pada umumnya berjalan itu memang ke depan. Bisa sajakan jalan kesamping atau jalan yang dimodif lainnya.
Kendala kedua adalah belajar dengan hafalan mekanis. Dalam perform kami menghapalkan gerakan gerakan yang ada, padahal dengan spontanitas (salah satu memunculkan kreativitas) gerakan gerakan kreatif juga bisa.
Kendala ketiga adalah tekanan akan konformitas. Karena kami tidak melihat secara langsung kegigihan kelompok lain dalam berlatih membuat kami cenderung conform kepada mereka untuk tidak berusaha maksimal.
Kendala kultural dan konseptual. Di budaya kolektif yang kita ada sekarang yang hanya menekankan konsep bahwa anak pendiam adalah anak yang baik. Kami terbiasa menjadi pendiam dan sulit untuk mengekspresikan gerakan gerakan menarik. Selain itu kami sudah membentuk konsep didalam pikiran bahwa kami bukanlah anak yang terlalu kreatif membuat kami jadi malas berusaha semaksimal mungkin.
Tapi menurut kami kendala terbesar adalah tekanan konformitas. Ketidakadaan model yang baik utuk kami tiru membuat kami pun tidak berusaha maksimal. Seandainya saja ada aja satu kelompok yang kami lihat berusaha maksimal mungkin kami pun akan semakin berusaha maksimal.

Tuesday, December 13, 2011

My Conceptual Blocks

Bagi sebagian orang, kreativitasnya akan semakin berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Tetapi sepertinya aku bukan termasuk kelompok tersebut. Berdasarkan hasil penelitian dan teori yang sudah kubaca, saat kecil dulu aku mempunyai ciri anak yang kreatif. Aku mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, selalu ingin belajar hal-hal yang baru, tidak takut berbuat kesalahan, mandiri, dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Saat zamanku, masih jarang ada anak yang les dari pagi hingga malam. Itu terjadi saat aku kelas 4, 5, dan 6 SD. Karena minat belajarku yang luas, aku banyak mengikuti les di luar pelajaran sekolah. Orang lain akan terperangah saat aku mengatakan bahwa ada 6 jenis les yang kuikuti dalam seminggu, dan itu atas keinginanku sendiri, bukan paksaan orang tua. Bahkan untuk mendaftar di tempat les tersebut, aku mencari informasinya sendiri. Kemandirian itu ditanamkan oleh pamanku. Jika aku meminta bantuannya untuk menelepon ke tempat les menanyakan infonya, ia tidak akan mau dan mengatakan, “jika kamu selalu bergantung pada orang lain, kamu sendiri kapan majunya?” Padahal setelah kupikir-pikir, sebenarnya lucu juga murid SD yang dianggap masih kecil sudah belajar menggunakan bahasa orang dewasa saat mau menanyakan info. :D

Saat SD dulu, aku adalah langganan orang yang selalu bertanya di setiap mata pelajaran. Hampir sama seperti Anissa, Steven, dan Weillun yang selalu memiliki pertanyaan di setiap mata kuliah setelah kelompok presenter selesai menjelaskan. Kejadian yang sangat berpengaruh adalah  saat aku duduk di kelas 7 (kelas 1 SMP). Ada seorang guru yang tidak suka bila aku bertanya. Saat itu topiknya adalah tentang tata surya, yang salah satu isinya mengenai jumlah hari di tiap-tiap planet untuk mengorbit matahari. Bumi sendiri membutuhkan waktu 365 ¼ hari untuk satu putaran mengelilingi matahari. Dan ¼ hari yang terkumpul dalam 4 tahun akan menjadi satu hari yang ditambahkan ke bulan Februari. Lalu pertanyaanku kepada beliau adalah: mengapa 1 hari itu harus ditambahkan ke bulan Februari, bukan bulan yang lain? Mengapa juga hanya bulan Februari yang berjumlah 28 hari, bukan bulan lainnya? Setelah introspeksi, sepertinya aku memang kelewatan memberikan pertanyaan demikian pada beliau. Hanya saja, feedback yang diberikan oleh guru tersebut sangat membekas. Beliau sangat marah saat aku memberi pertanyaan tersebut dan mengatakan bahwa aku adalah murid nakal yang sengaja mau mengerjain dan mengetes guru. Beberapa teman sekelasku juga mengejekku dengan mengatakan bahwa aku sengaja memberikan pertanyaan-pertanyaan konyol dengan maksud ingin caper. Well.. Pertanyaan itu memang terbersit begitu saja di kepalaku. Mengapa tidak boleh ditanyakan?
Sejak itulah aku sudah sangat jarang bertanya lagi. Dari kejadian tersebut, dapat dikatakan ini adalah kendala yang berasal dari lingkungan. Lingkungan yang membatasi sering mengakibatkan kreativitas tidak dapat berkembang, minat dan motivasi intrinsik juga dapat dirusak. Kendala lainnya yaitu tekanan akan konformitas. Anak-anak dapat saling menghambat kreativitas mereka dengan menekankan konformitas. Dari kasus di atas, ejekan dari teman menyebabkan rasa percaya diri menjadi jatuh, dan akhirnya memilih untuk conform dengan murid-murid lainnya dengan tidak banyak bertanya. Sumber kendala yang paling besar sebenarnya adalah diri sendiri. Orang cenderung untuk tidak melihat lebih jauh dan membatasi diri sendiri. Dalam hidup, sering secara sadar maupun tidak sadar kita menentukan sendiri batas-batas yang sebetulnya tidak ada dan yang menghambat prilaku kreatif kita. Ini termasuk dalam kendala perseptual, dimana kita cenderung untuk membatasi masalah dan tidak melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang yang ada. Selain itu, orang cenderung untuk takut terhadap kegagalan. Setelah gagal, orang akan takut untuk berbuat kesalahan lagi dan takut untuk mengambil resiko. Kecenderungan ini termasuk dalam kendala emosional.
Selain itu, kendala yang aku hadapi yaitu kendala psikologis. Dalam kendala ini, orang menyakinkan dirinya bahwa faktor eksternal menyebabkan mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya. Jika aku memang benar anak yang kreatif, seharusnya aku tidak boleh stuck hanya karena menemui kejadian demikian. *bagaimanapun juga, untuk benar-benar mempraktekkannya jauh lebih sulit daripada hanya menuliskannya.*
Semoga melalui mata kuliah ini, kreativitasku dapat kembali berkembang lagi. J